{"id":34,"date":"2026-05-08T10:14:49","date_gmt":"2026-05-08T10:14:49","guid":{"rendered":"https:\/\/designyxr.com\/?p=34"},"modified":"2026-05-08T12:20:59","modified_gmt":"2026-05-08T12:20:59","slug":"makan-malam-di-pulau-hantu-meetn-meal-mengajakmu-pulang-ke-rumah-yang-pernah-hilang","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/designyxr.com\/?p=34","title":{"rendered":"Makan Malam di Pulau Hantu? Meet&#8217;n Meal Mengajakmu Pulang ke Rumah yang (Pernah) Hilang"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Halo, Sobat Cerita dan Rasa!<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Udah pada makan siang belum? Atau lagi nyemil sambil scroll? Hati-hati, artikel kali ini bisa bikin kamu <em>lapar<\/em>. Tapi laparnya bukan cuma laper nasi, ya. Tapi juga laper <em>cerita<\/em>, laper <em>kenangan<\/em>, dan laper <em>kehangatan<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kenapa? Karena setelah beberapa kali kita ngobrolin soal desain yang megah, canggih, dan main-main\u2014sekarang waktunya kita duduk santai di <strong>satu meja<\/strong>. Meja yang nggak cuma buat makan, tapi buat <em>pulang ke rumah<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hari ini, saya akan mengenalkan kalian pada <strong>&#8220;Meet&#8217;n Meal&#8221;<\/strong> dari <strong>o&amp;o studio + REhyphenation<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Siap-siap. Meja bundar ini punya cerita yang\u2026 <em>bikin mellow<\/em>. Tapi mellow yang manis. Seperti teh hangat di sore hari yang hujan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Sebuah Pulau yang (Pernah) Sepi<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebelum bahas meja, coba bayangkan sebuah pulau kecil di Hong Kong bernama <strong>Yim Tin Tsai<\/strong> (\u9e7d\u7530\u6893)\u2014atau kalau diterjemahkan kira-kira artinya &#8220;Pelabuhan Tambak Garam&#8221;. Luasnya cuma 0,31 kilometer persegi. Kecil banget, kan?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pulau ini dihuni oleh keluarga besar <strong>Chan<\/strong> (Chen) yang berasal dari suku <strong>Hakka<\/strong>. Mereka hidup dari alam bikin garam, mancing, bertani, pelihara ayam. Uniknya, seluruh penduduk pulau ini <strong>beragama Katolik<\/strong>\u2014sebuah perpaduan langka antara budaya Hakka tradisional dan iman Katolik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tapi di tahun <strong>1998<\/strong>, keluarga terakhir meninggalkan pulau itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yim Tin Tsai resmi jadi <strong>pulau hantu<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bukan karena tsunami atau perang, ya. Tapi karena pergeseran zaman. Anak-anak muda pergi ke kota. Sekolah tutup. Lahan garam ditinggalkan. Yang tersisa hanya <strong>rumah-rumah kosong<\/strong> dan <strong>tembok-tembok tua<\/strong> yang mulai roboh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sedih, kan? Tapi tunggu dulu. Ceritanya nggak berakhir di situ.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kemudian, Ada &#8220;Pesta Pulang&#8221;<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa tahun terakhir, para mantan penduduk pulau mulai kembali. Nggak untuk tinggal lagi (karena pulau terlalu terpencil untuk kehidupan modern), tapi untuk <strong>memperbaiki<\/strong>. Mereka membangun kembali lahan garam, merenovasi gereja kecil St. Joseph, dan membuka pulau untuk wisata budaya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nah, tahun 2024, Yim Tin Tsai menjadi salah satu lokasi <strong>Sai Kung Hoi Arts Festival<\/strong> (Festival Seni Laut Sai Kung). Tema tahun itu? <strong>&#8220;Joy Again, Gather&#8221;<\/strong> \u2014&#8221;Kembali Bersukacita, Berkumpul&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pemerintah Hong Kong lalu menunjuk <strong>o&amp;o studio<\/strong> (arsitek Eric Chan dan Suzanne Li) bersama seniman <strong>REHyphenation<\/strong> (Joyce Fok) untuk membuat sebuah instalasi seni yang akan <strong>tinggal permanen<\/strong> di pulau itu sebagai hadiah untuk penduduk.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan hasilnya? <strong>&#8220;Meet&#8217;n Meal&#8221;<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebuah meja bundar raksasa yang diletakkan tepat di <strong>halaman depan sebuah reruntuhan tembok tua<\/strong>\u2014sisa-sisa rumah salah satu dari tiga klan keluarga yang dulunya hidup di sana.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kenapa Meja Bundar? Kenapa Di Situ?<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya tanya balik ke kamu. <strong>Kapan terakhir kali kamu makan malam bersama keluarga besar di satu meja bundar?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mungkin saat Imlek. Atau saat ada hajatan. Atau saat mudik ke kampung halaman.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meja bundar, dalam budaya Tionghoa (dan Hakka), punya makna sakral. <strong>Bentuknya yang bulat melambangkan kebersamaan tanpa ujung\u2014tanpa kepala, tanpa ekor<\/strong>. Semua orang punya kedudukan yang sama saat duduk di meja bundar. Nggak ada yang terpinggirkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tapi yang bikin <em>Meet&#8217;n Meal<\/em> ini genius adalah <strong>mejanya nggak utuh<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Coba perhatikan baik-baik. Bentuk meja ini bundar, tapi ada satu <strong>potongan besar<\/strong> yang hilang\u2014seperti sebuah irisan yang diambil dari kue bundar. Potongan itu bentuknya nggak asal-asalan. Ia membentuk <strong>karakter aksara &#8220;\u8c55&#8221; (sh\u01d0)<\/strong>\u2014yang artinya <strong>&#8220;babi&#8221;<\/strong> dalam aksara kuno China.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lho, kok babi? Nggak lucu dong?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tenang, ini nggak vulgar. Ini justru puitis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Aksara <strong>&#8220;\u5bb6&#8221; (ji\u0101)<\/strong>, yang artinya <strong>&#8220;rumah&#8221;<\/strong>, terdiri dari dua bagian atap (\u5b80) di atas, dan babi (\u8c55) di bawah. Filosofinya di zaman dulu, punya babi di bawah atap berarti <strong>punya makanan, punya kekayaan, punya kehidupan yang mapan<\/strong>. Itulah esensi &#8220;rumah&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nah, tembok tua yang menjadi latar instalasi ini adalah <strong>sisa-sisa atap<\/strong> (\u5b80) dari rumah tua yang sudah roboh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan meletakkan meja yang &#8220;terpotong&#8221; membentuk aksara babi (\u8c55) di depan tembok itu, maka secara visual <strong>aksara &#8220;rumah&#8221; (\u5bb6) pun terbentuk<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Reruntuhan bukan lagi simbol kehilangan. Ia menjadi <strong>lengkapan<\/strong> dari sebuah rumah yang utuh. Para pengunjung diajak <strong>masuk ke dalam potongan meja<\/strong>\u2014berdiri di ruang kosong itu\u2014dan dengan begitu, mereka <strong>berada di dalam &#8220;rumah&#8221; itu sendiri<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gila, nggak sih?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Satu meja bundar, satu tembok tua, satu potongan berbentuk babi. Dan tiba-tiba, publik berubah jadi <strong>keluarga<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Di Atas Meja 9 Hidangan yang (Mungkin) Nggak Kamu Kenal<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Oke, kita sudah lihat desain mejanya. Tapi yang bikin <em>Meet&#8217;n Meal<\/em> benar-benar terasa &#8220;hidup&#8221; ada di <strong>atas mejanya<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada <strong>16 piring dengan berbagai ukuran<\/strong>\u2014beberapa adalah mangkuk Hakka tradisional, beberapa piring datar modern. Di atas piring-piring itu, terhampar <strong>9 jenis &#8220;makanan&#8221;<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jangan buru-baru ambil sendok, ya. Karena ini bukan makanan beneran. Ini adalah <strong>patung mosaik warna-warni<\/strong> berbentuk masakan tradisional yang dulunya biasa dimasak oleh penduduk pulau.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apa saja?<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Ikan<\/strong> (ikan segar dari laut sekitar)<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Belangkas<\/strong> (makanan laut purba, dulu banyak di perairan Hong Kong)<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Kepiting<\/strong><\/li>\n\n\n\n<li><strong>Ikan Buntal<\/strong> (hati-hati, tapi penduduk pulai dulu tahu cara masaknya!)<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Ayam Garam<\/strong> (khas Hakka ayam dibungkus kertas lalu dikubur dalam garam panas)<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Katak Hijau<\/strong><\/li>\n\n\n\n<li><strong>Pork Belly Bowl<\/strong> (daging babi dalam mangkuk tanah liat)<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Cha Guo<\/strong> (kue beras kukus isi kacang\/daging\u2014camilan khas Hakka)<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Permen Kaca<\/strong> (ini yang paling unik!)<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Cerita di Balik &#8220;Permen Kaca&#8221;<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nah, saya mau cerita soal yang nomor 9 <strong>Permen Kaca<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dulu, di pulau itu hidup seorang pastor Katolik yang sangat memperhatikan anak-anak setempat. Karena pulau terpencil, mainan dan jajanan langka banget. Anak-anak nggak punya banyak hal untuk dinikmati.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sang pastor lalu <strong>kreatif<\/strong>. Dia memanaskan gula sampai meleleh, lalu menuangkannya ke atas es (atau permukaan dingin), sehingga membentuk lapisan gula tipis yang bening dan mengeras\u2014<strong>seperti kaca yang bisa dimakan<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Makannya dengan cara <strong>dijilat<\/strong> perlahan sampai lumer di lidah. Ini formel makanan masa sulit yang jadi <em>icon of resilience<\/em>\u2014bahwa kebahagiaan bisa ditemukan dari bahan sekecil apapun, selama ada kreativitas dan kasih sayang.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">AI, Mosaik, dan Sinar Matahari<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Satu hal lagi yang bikin saya <em>nganga<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nggak ada satu pun foto atau gambar yang merekam secara pasti &#8220;seperti apa rupa ke-9 makanan itu 50 tahun lalu&#8221;. Kenangan hanya tersimpan di mulut dan ingatan para lansia yang tersisa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lalu bagaimana caranya o&amp;o studio dan REhyphenation &#8220;membentuk ulang&#8221; makanan ini?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jawabannya <strong>Artificial Intelligence<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mereka memasukkan semua deskripsi lisan dari para tetua desa ke dalam AI generator, lalu <strong>AI membantu membayangkan bentuk visual dari setiap hidangan<\/strong> berdasarkan teks-teks itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hasilnya? Bukan foto realistis, tapi sebuah <strong>abstraksi kaya warna<\/strong> yang dibuat dengan <strong>mozaik kaca warna-warni<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lalu ketika matahari bersinar, mozaik-mozaik ini memantulkan cahaya seperti kaca patri di gereja kecil St. Joseph di atas bukit. Sebuah koneksi spiritual yang nggak disengaja tapi terjadi begitu indah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Oh iya, piring dan mosaik ini juga <strong>menyerap panas matahari<\/strong>. Jadi kalau kamu datang siang hari, makanan-makanan ini akan terasa <strong>hangat<\/strong> saat kamu sentuh. Seperti baru saja diangkat dari kompor.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Detail yang bikin nangis, ya.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Desain Adalah Wadah untuk Pulang<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Eric Chan (o&amp;o studio) pernah bilang dalam wawancara bahwa mereka <strong>sengaja menghilangkan gaya pribadi<\/strong> dalam rancangan ini. Nggak ada &#8220;ciri khas o&amp;o&#8221;, nggak ada &#8220;signature look&#8221; biar keliatan keren.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Semua elemen\u2014meja, piring, makanan, bahkan warna\u2014<strong>semuanya berasal dari pulau itu sendiri<\/strong> dari cerita penduduk, dari sejarah keluarga, dari rasa makanan yang mereka rindukan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ini yang disebut pendekatan <strong>&#8220;de-stylized&#8221;<\/strong>. Desainer tidak &#8220;mencipta&#8221; sesuatu yang baru. Mereka hanya menjadi <strong>wasit<\/strong> yang mengumpulkan fragmen-fragmen memori yang berserakan, lalu menyusunnya kembali menjadi sebuah <strong>meja<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ujungnya, <strong>&#8220;Meet&#8217;n Meal&#8221;<\/strong> bukanlah sebuah objek. Ia adalah sebuah <strong>undangan<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Undangan untuk duduk. Undangan untuk berbagi cerita. Undangan untuk pulang\u2014meskipun rumah fisikmu sudah rata dengan tanah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya suka banget permainan kata yang mereka pakai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam bahasa Kanton, <strong>&#8220;M4 Zi2&#8221;<\/strong> (\u6664\u6893) artinya <strong>&#8220;bertemu di Yim Tin Tsai&#8221;<\/strong>. Tapi bunyinya mirip dengan <strong>&#8220;M4 Zi2&#8221;<\/strong> (\u5514\u6b62) yang artinya <strong>&#8220;lebih dari sekadar&#8221;<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><em>Meet&#8217;n Meal<\/em> \u2192 lebih dari sekadar makanan.<\/li>\n\n\n\n<li><em>M4 Zi2 Yat1 Chaan1<\/em> \u2192 lebih dari sekadar bertemu.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dan saya setuju banget. Meja ini memang <em>lebih dari<\/em> segalanya yang terlihat.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Bayangkan Jika Ada &#8220;Meet&#8217;n Meal&#8221; di Kotamu\u2026<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sobat, sekarang saya ingin ajak kamu ngobrol personal lagi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Apakah di kampung halamanmu ada sebuah pulau, desa, atau sudut kota yang sudah ditinggalkan? Mungkin karena pergi merantau, mungkin karena tergusur pembangunan, atau mungkin karena yang tua sudah tiada dan yang muda pergi ke kota?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sekarang, bayangkan jika di reruntuhan rumah nenek moyangmu, tiba-tiba ada <strong>meja bundar<\/strong> dengan piring-piring berisi makanan yang dulu sering kamu makan waktu kecil. Mungkin rendang, mungkin nasi liwet, mungkin ikan asin sambal terasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kira-kira, apa yang akan kamu rasakan?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Itulah kekuatan <em>Meet&#8217;n Meal<\/em>. Ia mengajarkan kita bahwa <strong>desain tidak harus selalu futuristik, mewah, atau canggih<\/strong>. Kadang, desain yang paling kuat adalah yang paling sederhana <strong>hanya sebuah meja bundar yang cukup besar untuk semua orang, dengan makanan yang cukup untuk semua rasa<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Meja yang Lebih dari Meja<\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Teman-teman, mungkin ini artikel paling <em>enggak desain<\/em> yang pernah saya tulis. Soalnya kita hampir nggak membahas lekuk kursi, material canggih, atau teknologi 3D printing.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tapi justru di sinilah letak keindahannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">o&amp;o studio dan REhyphenation mengingatkan kita bahwa <strong>intuisi, empati, dan ingatan<\/strong> adalah alat desain yang paling canggih yang pernah ada. Dan mereka membuktikannya dengan sesuatu yang seharian kita anggap biasa <strong>meja makan<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Meet&#8217;n Meal<\/em> bukanlah meja. Ia adalah:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Sebuah gereja kecil bagi mereka yang rindu rumah.<\/strong><\/li>\n\n\n\n<li><strong>Sebuah pesta untuk mereka yang pindah.<\/strong><\/li>\n\n\n\n<li><strong>Sebuah doa untuk mereka yang pergi dan tidak kembali.<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sobat, meja ini mengundangmu pulang. Entah itu pulang ke kampung halaman, pulang ke masa kecil, atau pulang ke <em>dirimu sendiri<\/em> yang mungkin sudah lama hilang di antara deadline dan target kerjaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi, <strong>kapan terakhir kali kamu benar-benar <em>makan bersama<\/em> keluarga?<\/strong> Bukan sekadar makan di meja yang sama sambil lihat HP masing-masing. Tapi beneran <em>bersama<\/em>?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tulis jawabanmu di kolom komentar, ya. Dan jangan lupa <strong>share artikel ini<\/strong> ke grup keluarga. Siapa tahu jadi pengingat untuk <strong>ngadain makan bareng<\/strong> akhir pekan ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sampai jumpa di artikel berikutnya, dengan cerita desain yang nggak kalah hangat. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Halo, Sobat Cerita dan Rasa! Udah pada makan siang belum? Atau lagi nyemil sambil scroll? Hati-hati, artikel kali ini bisa&#8230;&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":45,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[36],"tags":[24,26,25],"class_list":["post-34","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-furniture-kontemporer","tag-mejabundarhakka","tag-o_ostudio","tag-senimosaikrasa"],"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/designyxr.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/34","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/designyxr.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/designyxr.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/designyxr.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/designyxr.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=34"}],"version-history":[{"count":2,"href":"http:\/\/designyxr.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/34\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":61,"href":"http:\/\/designyxr.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/34\/revisions\/61"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/designyxr.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/45"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/designyxr.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=34"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/designyxr.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=34"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/designyxr.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=34"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}