Halo, para pencari keajaiban di sudut-sudut ruangan!
Pernah nggak sih kamu berhenti di tengah aktivitas yang padat, lalu melihat ke luar jendela saat hujan atau salju turun? Rasanya… damai, ya? Seperti dunia sedang berbisik sesuatu yang lembut ke telinga kita.
Nah, hari ini saya bakal ajak kamu merasakan bisikan yang sama—tapi dalam bentuk yang… nggak lucu-lucu amat.
Karena setelah beberapa artikel terakhir kita dipenuhi cerita berat soal keberlanjutan, limbah, dan rumah bagi makhluk hidup, sekarang saatnya kita berhenti sejenak dan menyaksikan keajaiban.
Ya, keajaiban. Bukan keajaiban sulap Harry Potter yang pake tongkat. Tapi keajaiban persepsi—sebuah ilusi yang sengaja diciptakan, dirayakan, dan dibekukan dalam bentuk objek.
Hari ini, kita akan membahas “SNOW” dari YOY.
Siap-siap. Koleksi ini bukan sekadar vas atau lampu. Ini adalah badai salju yang abadi—50.000 keping keindahan yang tidak akan pernah mencair. 🌨️
YOY, Maestro Ilusi dari Tokyo
Sebelum kita larut dalam salju, kenalan dulu dengan orang di balik layar.
YOY adalah studio desain asal Tokyo yang didirikan pada tahun 2011 oleh Naoki Ono (arsitek) dan Yuki Yamamoto (desainer produk). Mereka berdua ini bukan tipe desainer yang teriak-teriak “Lihat aku! Lihat karyaku yang mewah!”
Mereka lebih suka berbisik. Tapi bisikannya mengguncang.
Motto mereka sederhana “antara ruang dan objek”. Tapi jangan salah. Frasa pendek itu menyembunyikan ambisi besar mengaburkan batas antara yang nyata dan yang tampak nyata.
Coba bayangkan ini Sebuah kursi yang dari kejauhan terlihat seperti lukisan dua dimensi yang disandarkan ke dinding. Atau rak buku yang membuat buku-buku melayang di udara—padahal sebenarnya ada rak tipis yang sengaja kamu nggak lihat karena menyatu dengan latar.
Atau lampu yang fisiknya cuma batang logam, tapi saat dinyalakan, sebuah kap lampu klasik muncul di dinding—dibentuk oleh cahaya.
Itulah YOY. Mereka adalah pesulap di dunia desain. Tapi trik mereka bukan trik sulap. Ini adalah “kesalahan persepsi” yang sengaja dipelajari, dimanipulasi, lalu dibekukan menjadi objek.
Seperti yang mereka katakan sendiri.
“Kami tertarik pada ‘kesalahan’ yang terjadi dalam persepsi.”
Dan kesalahan terbaru yang mereka ciptakan? Salju. Di dalam ruangan. Yang tidak pernah mencair.
SNOW, Ketika Jakarta (atau Kotamu) Bisa Bersalju
Oke, saya tahu. Sebagian dari kita mungkin nggak pernah mengalami salju sungguhan. Tapi tutup mata sejenak dan bayangkan.
Pagi hari. Kamu baru bangun. Di meja samping tempat tidur, ada sebuah vas. Sebuah vas cantik. Tapi yang membuatmu berhenti bukan vasnya—tapi tumpukan kristal putih kecil yang tampak seperti baru saja jatuh dari langit, lalu menumpuk lembut di sekitar vas, di atas meja, bahkan di lantai di sekitarnya.
“Salju?” pikirmu. “Tapi kan nggak mungkin…”
Nah, itulah SNOW.
“SNOW” adalah koleksi vas dan lampu yang dilapisi oleh 500.000 keping kristal salju tiruan—masing-masing berukuran diameter 3,2 hingga 6,4 mm dan ketebalan hanya 0,2 mm.
Bukan serpihan plastik asal-asalan, ya. Setiap keping salju adalah replika presisi dari kristal nyata—dengan bentuk cabang, sudut, dan simetri sempurna seperti yang diklasifikasikan dalam “Global Classification of Snow Crystals”.
Bayangkan 500.000 keping salju mikroskopis. Masing-masing dipotong dengan high-definition laser cutter. Lalu ditempelkan satu per satu—atau lebih tepatnya ditaburkan—di atas vas dan lampu.
Hasilnya? Sebuah objek yang terlihat seperti dibawa pulang langsung dari negeri dongeng.
Dibuat dengan “Metode Udang Goreng”? Gila Banget!
Tapi ini yang bikin saya merinding sekaligus ketawa. Proses pembuatannya sama sekali nggak high-tech. Malah… lucu.
Para desainer di YOY menyebut metode mereka sebagai “Ebi Fry Method” —alias “Metode Udang Goreng”.
Iya. Betul. Udang goreng.
Beginilah caranya:
- Vas atau lampu yang akan dilapisi dijadikan “bahan dasar”—seperti udang mentah.
- Lalu permukaannya disemprot lem—seperti mencelupkan udang ke telur.
- Lalu kepingan salju ditaburkan di atasnya—seperti membaluri udang dengan tepung panir.
- Tunggu kering selama 24 jam.
- Ulangi lagi lapisan berikutnya.
- Ulangi. Ulangi. Sampai ketebalan yang diinginkan tercapai.
Lucu, kan? Tapi lucu juga gilaa.
Jangan salah, meskipun metode namanya konyol, lem yang digunakan nggak main-main. YOY bekerja sama dengan Cemedine—perusahaan lem asal Jepang—untuk menemukan formula yang benar-benar transparan, tidak menguning seiring waktu, tahan cuaca, dan encer.
Kenapa encer? Karena kalau lem terlalu kental, kepingan salju bakal tenggelam. Kalau terlalu encer, nggak nempel. Sweet spot-nya sangat presisi.
Oh iya, mereka juga bekerja sama dengan Profesor Yoshifuru Furukawa dari Universitas Hokkaido—seorang ilmuwan yang karyanya tentang kristal es bahkan pernah dikirim ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) Jepang “Kibo”!
Profesor Furukawa-lah yang memastikan bahwa setiap keping salju dalam koleksi SNOW 100% akurat secara ilmiah. Bahkan sampai ke detail tingkat pembekuan udara, kelembaban, dan suhu saat kristal terbentuk di alam.
Jadi ketika kamu melihat tumpukan salju itu, kamu tidak hanya melihat artefak desain. Kamu melihat sebuah fenomena alam yang dibekukan dalam waktu—dengan bantuan ilmuwan luar angkasa, ahli lem, dan sedikit trik “udang goreng”.
12 Tipe Salju, 500.000 Keping Keajaiban
Apakah kamu tahu bahwa salju punya 121 tipe berbeda tergantung suhu dan kelembaban saat ia terbentuk?
Di alam, tidak ada dua keping salju yang sama. Tapi YOY memilih 12 tipe standar yang paling sering muncul. 12 tipe yang kemudian digandakan menjadi 500.000 replika identik.
Beberapa tipe yang mereka pilih:
- Dendrite (bintang bercabang enam)
- Plate (lempengan heksagonal sederhana)
- Column (batang pendek)
- Needle (jarum tipis)
- Dan 8 tipe lainnya
Setiap tipe punya “kepribadian” sendiri. Dendrite, misalnya, terlihat mewah dengan cabang-cabangnya yang rumit. Plate, di sisi lain, polos tapi anggun.
Dan ketika setengah juta keping ini berhamburan di atas sebuah vas, mereka menciptakan tekstur yang bahkan tidak bisa ditiru oleh mesin tercanggih sekalipun.
Karena seperti salju asli, tidak ada dua tumpukan yang sama.
Estetika Sunyi yang Berbicara
Salah satu alasan saya paling suka dengan karya YOY adalah karena mereka menghormati kekosongan.
Bukan kekosongan yang sedih, ya. Tapi kekosongan yang damai. Seperti hamparan salju di pagi buta sebelum jejak kaki manusia mengganggunya.
Koleksi SNOW hadir dalam dua varian utama:
1. Vases (Vas)
Vas keramik putih yang “ditanam” di tengah tumpukan salju. Bunga yang diletakkan di dalamnya seolah tumbuh dari musim dingin—kontras antara kehidupan (bunga) dan kematian semu (salju) menciptakan ketegangan visual yang indah.
2. Lamps (Lampu)
Lampu dengan dudukan logam tipis, lalu dilapisi salju di pangkalnya. Efeknya seperti lampu yang tertimbun badai salju—tapi masih menyala. Hangat. Terus berjuang.
Warnanya? Kebanyakan monokrom. Putih. Bening. Abu-abu muda.
Bukan karena mereka nggak suka warna, tapi karena warna akan mengganggu ilusi. Salju, seperti yang kita tahu, adalah tentang kesunyian visual. Tentang absence. Tentang ketiadaan yang justru berbicara sangat keras.
Ketika lampu di dalamnya menyala, cahaya kuning hangat akan menembus tumpukan kristal bening, menciptakan gradasi cahaya yang lembut—seperti matahari di balik awan mendung.
Filosofi “Tidak Berguna Tapi Menyenangkan”
Saya suka dengan sikap YOY soal design philosophy mereka.
Dalam sebuah wawancara, mereka bilang.
“Saat ini, ‘desain’ sering didefinisikan sebagai sesuatu yang memecahkan masalah orang. Tapi kami ingin menunjukkan aspek desain yang bukan hanya tentang kemudahan penggunaan dan fungsionalitas. Kami ingin merancang objek yang dapat dihubungkan orang secara lebih emosional dan menggunakan imajinasi mereka.”
Dan untuk proyek SNOW, mereka lebih blak-blakan lagi.
Mereka menyebut pendekatan mereka sebagai “Membuat sesuatu yang sama sekali tidak berguna bagi dunia, tapi menarik untuk dibuat.”
Baca lagi kalimat itu.
“Tidak berguna bagi dunia.”
Apakah SNOW berguna? Nggak juga. Vas biasa juga bisa menampung bunga. Lampu biasa juga bisa menerangi ruangan. Menambahkan 500.000 keping salju tiruan di atasnya tidak menambah fungsi sama sekali.
Tapi itulah gunanya.
SNOW tidak peduli dengan fungsi. SNOW peduli dengan perasaan. Dengan keajaiban. Dengan membekukan sekejap keindahan yang biasanya hanya kita nikmati sebentar—lalu lenyap—menjadi sesuatu yang abadi.
Mereka mengingatkan kita bahwa tidak semua yang kita miliki harus “berguna”. Kadang, kita hanya butuh sesuatu yang… indah. Yang membuat kita tersenyum. Yang membuat kita berhenti sejenak di pagi hari, sebelum memulai rutinitas yang melelahkan.
Itulah SNOW. Tidak berguna. Tapi sangat dibutuhkan.
Tempat dan Waktu Milan Design Week 2024
Koleksi SNOW pertama kali diperkenalkan di Milan Design Week 2024—event desain terbesar di dunia yang digelar setiap bulan April di Milan, Italia.
Pameran tunggal YOY yang bertajuk “SNOW YOY” ini berlangsung dari 15 hingga 21 April 2024 di Galleria Clio Calvi Rudy Volpi (Via Pontaccio 17, Milan).
Tepat di jantung distrik Brera—surganya para desainer dan pecinta seni.
Dan kabar baiknya koleksi ini tidak hanya ada di pameran. SNOW diproduksi secara terbatas dan dapat dipesan melalui jaringan distributor tertentu. Sayangnya, untuk pasar Indonesia, kita mungkin perlu sedikit bersabar—atau siap-siap pre-order dari luar negeri.
Tapi tenang, good things come to those who wait, kan?
Yang Lain dari YOY, Kenapa Mereka Istimewa?
Sebelum kita tutup, saya ingin cerita sedikit soal karya-karya YOY yang lain. Biar kamu makin paham kenapa mereka itu petualang sejati di dunia ilusi.
1. Canvas Chair (2011)
Kursi yang dari depan terlihat seperti lukisan dua dimensi yang disandarkan ke dinding. Tapi saat kamu duduk, “lukisan” itu berubah jadi kursi sungguhan.
2. Shelf (2019)
Rak buku yang membuat buku-buku seolah melayang di udara. Triknya? Raknya tipis banget—cuma 2 cm—dan warnanya sama persis dengan dinding. Jadi mata kita “kecele”.
3. YOYLight (2015)
Lampu meja yang fisiknya cuma batang logam. Tapi saat dinyalakan, sebuah kap lampu klasik muncul di dinding—dibentuk oleh cahaya yang diproyeksikan.
4. Peel (2012)
Lampu OLED yang diletakkan di sudut ruangan. Bentuknya seperti kertas dinding yang dikelupas, lalu dari balik celah itu, cahaya menembus. Rasanya seperti ruanganmu punya rahasia.
5. Puddle (2024)
Genangan air palsu yang jadi vas bunga. Ada “air” di atas meja—tapi itu ilusi optik. Satu tangkai bunga seolah tumbuh dari genangan.
Polanya sekarang jelas, kan?
YOY tidak pernah mendesain objek. Mereka mendesain pengalaman. Mereka mendesain momen ketika mata kita bertanya, “Ini nyata atau ilusi?”
Dan jawabannya? Keduanya.
Bekukan Waktu, Biarkan Salju Berbicara
Teman-teman, saya akui dari sekian banyak koleksi yang kita bahas—mulai dari meja marmer Zaha, kursi limbah BENTU, rumah singgah kucing CABLE, meja pulau hantu o&o studio, sampai lukisan dari sampah pabrik nendo—SNOW mungkin yang paling tidak berguna secara fungsi.
Tapi justru di situlah letak keindahannya.
SNOW adalah sebuah pemberontakan halus terhadap dunia yang terlalu utilitarian. Sebuah pengingat bahwa kita berhak memiliki sesuatu hanya karena indah—tanpa harus memberikan alasan fungsional apa pun.
Dan ketika malam tiba, saat lampu di dalamnya menyala hangat, saya suka membayangkan bahwa setiap keping salju itu sedang berbisik.
“Berhentilah sejenak. Perhatikan aku. Karena aku adalah keajaiban kecil yang tidak akan pernah kamu temukan di tempat lain.”
Share artikel ini ke teman-teman yang masih percaya pada keajaiban. Sampai jumpa di artikel berikutnya, dengan cerita desain yang nggak kalah ajaib!