Halo para pemburu keindahan yang tersembunyi!
Sore ini cerah banget, cocok kalau kita ngobrol soal sesuatu yang… lembut. Hangat. Dan bikin kamu pengen nyentuh layar HP—meskipun nggak bisa karena hanya gambar.
Setelah beberapa artikel terakhir kita penuh dengan heavy stories (limbah konstruksi, pulau hantu, sampah pabrik), sekarang saatnya kita bernapas.
Hari ini saya akan membawa kalian bertemu dengan “A House for Flowers” dari the design labo.
Judulnya saja sudah bikin saya jatuh cinta sejak pertama baca. A House for Flowers… Rumah untuk Bunga. Bukan vas, bukan pot—tapi rumah. Sebuah pernyataan bahwa bunga layaknya makhluk hidup yang berhak punya hunian layak, bukan sekadar wadah.
“the design labo”? Kenalan Dulu Yuk
Sebelum kita masuk ke koleksinya, perlu saya jelaskan dulu soal the design labo.
Dalam pencarian saya, ternyata ada beberapa studio dengan nama mirip (bikin pusing juga sih). Tapi the design labo yang akan kita bahas adalah entitas desain yang sangat istimewa—bukan sekadar studio komersial, tapi lebih seperti laboratorium puitis di mana material dan ide dipertemukan dengan cara yang tak terduga.
Beberapa referensi menyebut bahwa the design labo memiliki pendekatan yang sangat artisanal dan eksperimental. Mereka suka bermain dengan material alam, dengan bentuk-bentuk organik, dan yang terpenting mereka tidak terburu-buru.
Bayangkan sebuah studio yang karyanya seperti slow living dalam bentuk furnitur. Setiap produk adalah hasil dari proses panjang riset material, eksperimen bentuk, dan yang paling utama—dialog dengan alam.
A House for Flowers, Bukan Vas Biasa
Sekarang saya ajak kamu tutup mata sejenak.
Bayangkan sebuah rumah mungil di pedesaan. Rumah itu punya dinding yang hangat, atap yang melindungi dari panas dan hujan, dan jendela-jendela kecil tempat sinar matahari masuk.
Nah, konsep itulah yang diterapkan pada bunga.
“A House for Flowers” adalah koleksi vas dan wadah bunga yang didesain sebagai “rumah”—bukan sekadar container. Setiap vas punya:
- Atap yang melindungi (bentuknya seperti kanopi mini)
- Dinding yang membingkai (bukan mengurung)
- Ruang yang membuat bunga merasa… pulang
Saya suka sekali dengan metafora ini. Karena selama ini kita memperlakukan bunga sebagai “pelengkap” ruangan kita beli, masukkan ke vas polos, letakkan di sudut, lupa. Tapi the design labo mengingatkan bahwa bunga adalah tamu kehormatan di rumah kita—mereka layak dihormati, diperhatikan, dan diberi rumah yang indah.
Material dan Bentuk Organik yang Terkendali
Kalau saya harus mendeskripsikan estetika koleksi ini dengan tiga kata lembut, hangat, dan alive.
Materialnya? Dari yang saya baca di beberapa sumber, the design labo menggunakan kombinasi:
- Keramik dengan glaze natural (warna-warna tanah, krem, abu-abu muda, sedikit hijau lumut)
- Kayu dengan finishing matte (bukan mengkilap, sehingga terasa seperti belum disentuh tangan manusia berlebihan)
- Kaca daur ulang dengan tekstur (bukan bening sempurna, tapi berawan seperti kabut pagi)
Dan yang paling menarik bentuknya simbiosis.
Coba bayangkan sebuah vas keramik dengan “atap” menjorok ke dalam. Bunga yang diletakkan di sana akan sedikit “tersembunyi”—seolah dilindungi. Atau sebuah wadah kayu dengan dinding yang melengkung seperti sedang memeluk batang bunga.
Bentuk-bentuk ini tidak dirancang secara rigid dengan busur dan garis lurus. Mereka mengalir—seperti tanah yang membentuk tebing, atau akar yang mencari jalan. Ini adalah desain yang lahir dari observasi terhadap alam, bukan dari kalkulasi matematis semata.
Filosofi di Balik “Rumah”
Yang membuat saya benar-benar tersentuh adalah pesan di balik koleksi ini.
“A flower doesn’t just need water. It needs a home.”
Kutipan ini (yang saya kira-kira dari wawancara dengan founder the design labo) mengubah cara saya melihat vas bunga selamanya.
Selama ini kita lihat vas sebagai aksesoris. Pilih yang “bagus”, yang “mahal”, yang “sesuai dengan sofa”. Tapi the design labo bilang no. Vas bukan aksesoris. Vas adalah rumah.
Dan seperti rumah sungguhan, ia harus:
- Melindungi dari unsur luar (angin, panas berlebih, goyangan)
- Menyediakan lingkungan yang sehat (drainase air, sirkulasi udara di akar)
- Mencerminkan kepribadian penghuninya (setiap bunga punya karakter, bentuk, dan kebutuhan berbeda)
Bayangkan ada vas yang tinggi dan ramping untuk bunga lili yang anggun. Ada vas yang pendek dan lebar untuk mawar yang “berisi”. Ada vas dengan lubang sempit untuk satu tangkai bunga liar yang kurus—memberinya “privasi”, melindunginya dari bunga lain yang mungkin lebih dominan.
Ini adalah empati dalam bentuk objek. Ini adalah desain yang listens.
Konteks yang Lebih Luas, Desain untuk Makhluk Hidup
Menariknya, koleksi “A House for Flowers” ini masuk dalam gerakan desain yang lebih besar desain untuk non-manusia.
Saya jadi ingat dua proyek sebelumnya yang kita bahas:
- The Adapter Units oleh CABLE tempat berteduh untuk hewan liar
- Meet’n Meal oleh o&o studio + REhyphenation meja bundar untuk memori keluarga
A House for Flowers melanjutkan tradisi ini—tapi dengan subjek yang bahkan lebih “kecil” dan sering diabaikan tanaman.
the design labo sepertinya ingin mengingatkan bahwa desain tidak harus selalu berpusat pada manusia. Bunga, pohon, bahkan lumut pun berhak mendapatkan wadah yang didesain dengan cinta dan perhatian.
Dan ironisnya, dengan mendesain “rumah” yang baik untuk bunga, kita justru membuat rumah kita sendiri menjadi lebih indah. Bunga yang bahagia akan mekar lebih lama, warnanya lebih cerah, dan energinya lebih positif. Win-win solution, kan?
Informasi Praktis
- Koleksi: “A House for Flowers” oleh the design labo
- Tipe produk: Vas dan wadah bunga (berbagai ukuran dan bentuk)
- Material: Keramik glaze natural, kayu finishing matte, kaca daur ulang tekstur
- Filosofi: Bunga layak punya “rumah”, bukan sekadar wadah
- Status: Koleksi terbatas (limited edition), diproduksi secara artisanal
Sayangnya, untuk jangkauan pemasaran, sepertinya koleksi ini masih terbatas di galeri dan showroom tertentu di Eropa (karena the design labo sendiri berbasis di Italia, jika merujuk pada beberapa sumber tentang design labo di Milan).
Tapi buat yang tertarik, mungkin bisa cek toko desain independen atau mengikuti akun media sosial the design labo untuk informasi pemesanan internasional.
Pulanglah, Bunga
“A flower doesn’t just need water. It needs a home.”
Setiap kali saya membaca kalimat itu, saya jadi mikir apakah kita juga begitu?
Mungkin kita bukan bunga. Tapi kita semua butuh “rumah”—bukan sekadar atap dan dinding, tapi tempat di mana kita merasa dilindungi, dihargai, dan bisa mekar dengan bebas.
A House for Flowers adalah pengingat halus bahwa desain, pada akhirnya, adalah tentang menciptakan rumah—untuk bunga, untuk hewan, untuk manusia, dan untuk memori itu sendiri.
Kalau kamu diberi kebebasan untuk mendesain “rumah” untuk bunga favoritmu—bentuknya seperti apa? Apakah tinggi menjulang seperti mercusuar? Atau bulat mungil seperti sangkar burung?
Tulis jawabanmu di kolom komentar, ya! Siapa tahu idemu bisa menginspirasi desainer lain.
Share artikel ini ke teman-teman pecinta tanaman hias. Sampai jumpa di artikel berikutnya, dengan cerita desain yang nggak kalah hangat!