Sengaja Dihancurin Palu Biar Jadi Sofa? Break to Make adalah Terapi Kreatif Paling Gila!

Halo, para pembaca yang hobinya ngulik hal-hal nyeleneh!

Udah pada siap buat berantakin ruang tamu? Tenang, kali ini saya nggak nyuruh kamu bikin kacau, kok. Tapi kita bakal ngobrolin dua orang gila yang sengaja bikin barang bagus, lalu dihancurin dengan palu. Yes, you read that right.

Setelah sekian lama kita bahas desain yang refined—mulai dari meja marmer Zaha Hadid yang mulus mulus, lampu nendo yang warna-warni kayak badai bunga, sampai vas salju abadi dari YOY—sekarang saatnya kita beralih ke sisi gelap dari dunia desain.

Bukan gelap yang menakutkan, ya. Tapi gelap yang… menggugah.

Hari ini, kita akan membahas “Break to Make” —buah kolaborasi gila antara nendo (si jenius minimalis asal Jepang) dan Daniel Arsham (si perusak artefak asal Amerika).

Siap-siap. Di sini, penghancuran adalah awal dari kreasi.

Siapa Bilang Rusak Itu Buruk?

Coba lirik sekeliling ruanganmu. Meja, kursi, lampu. Semuanya utuh, kan? Rapi. Sempurna. Nggak ada yang retak, nggak ada yang penyok.

Itu karena selama ini kita punya preconception (prasangka) bahwa barang yang bagus harus utuh, mulus, dan nggak boleh rusak.

Nah, Break to Make hadir untuk menghancurkan prasangka itu. Literally.

“Everything that exists today will become a relic, yet when we think about decay or deconstruction, there is a sense that is not beautiful or useful. Through this collaboration, we focused on creating functionality out of what is broken.”

Itu kata Daniel Arsham sendiri. Dan kalimat itu bener-bener ngegas banget, ya? “Kita bikin fungsi dari barang yang udah hancur.”

Jadi, ini nih proyek kolaborasi yang udah direncanakan selama lebih dari 4 tahun dan akhirnya terwujud di Milan Design Week 2023. Mereka berdua—nendo dan Arsham—ngerasa kayak perfect mismatch. Seperti kata pepatah opposites attract. Dan mereka beneran attract banget.

Gimana Cara Kerja “Break to Make”? Sederhana Banget.

Oke, lupakan proses desain rumit yang butuh tahunan. Di sini, metodenya cuma 3 langkah sederhana:

  1. nendo MAKES → Oki Sato (founder nendo) bikin objek-objek geometris dari styrofoam. Bentuknya macam-macam ada yang kayak bak mandi, ada yang balok panjang, ada yang kotak tinggi. Tapi nggak ada fungsi spesifik dari objek-objek ini. Mereka cuma… ada.
  2. Daniel BREAKS → Masuklah si “destruction artist”. Daniel Arsham mengambil objek-objek itu, lalu memukul, mengikis, dan “menghancurkan” bagian-bagian tertentu. Pake tangan, pake alat, pokoknya destructive banget.
  3. New FUNCTION is BORN → Dari “puing-puing” kehancuran itu, tiba-tiba muncul fungsi baru. Yang tadinya cuma balok nggak jelas, sekarang jadi sofa, bangku, meja konsol, atau kursi!

Proses ini mereka pamerin langsung di entry pameran dalam bentuk diagram tiga langkah MAKE → BREAK → MAKE lagi . Kocak tapi makes sense banget.

Sato (nendo) ngejelasin dengan gamblang.

“From a bathtub-like form, a loveseat emerged; from a long and narrow block, a bench or a stool; from a tall, square form, a console table was revealed.”

Bayangin awalnya cuma gumpalan styrofoam bentuknya kayak bak mandi. Terus Arsham pukul-pukul di bagian tengahnyakrraakk! Tiba-tiba bentuknya jadi sofa untuk dua orang (loveseat). Magic, kan?

Yang lebih keren proses ini bersifat performatif. Mereka nggak cuma ngehasilin produk akhir, tapi juga mengundang penonton untuk melihat “aksi penghancuran” sebagai bagian dari seni . Jadi kayak nonton pertunjukan teater, tapi medianya styrofoam dan palunya beneran.

Material Styrofoam? Seriusan?

Pertanyaan paling jujur dari kalian pasti “Styrofoam? Bukannya itu bahan murahan dan nggak ramah lingkungan?”

Nah, ini poin penting yang perlu dilurusin.

Jadi, dalam pameran Break to Make, semua prototipe awal memang dibuat dari styrofoam. Kenapa styrofoam? Karena mudah dipotong, mudah dihancurin, dan ngasih “kebebasan total” buat Arsham bereksperimen dengan aksi destruktif.

Tapi styrofoam-nya sendiri nggak dijual sebagai produk akhir, ya. Mereka cuma dipake sebagai prototipe (model uji coba). Setelah bentuk “destruktif” yang diinginkan tercapai, prototipe itu kemudian dijadikan cetakan (mold) untuk memproduksi versi final dari gips (plaster) berwarna.

Jadi furnitur yang bisa kamu beli/beli (kalau punya duit) itu dari gips yang kokoh, bukan styrofoam yang ringkih.

Dan kabar baiknya di Jepang, styrofoam termasuk bahan yang didaur ulang dengan tingkat pemulihan tinggi, setara dengan botol PET dan kardus . Jadi nggak asal buang, lah.

Estetika Warna Pastel yang “Rusak”

Nah, kalau soal look, koleksi ini 100% signature Daniel Arsham.

Kamu pasti udah nggak asing sama palet warna pastel yang faded—kayak merah jambu pucat, biru langit pudar, dan abu-abu kehijauan. Warna-warna ini sengaja dipilih untuk memberikan kesan artefak kuno seolah-olah furnitur ini baru saja digali dari situs arkeologi ribuan tahun lalu.

Sentuhan ini terinspirasi dari konsep “Fictional Archaeology” (Arkeologi Fiksi) ala Arsham—di mana benda-benda kontemporer sengaja “dirusak” dan “dikeroposkan” biar keliatan seperti peninggalan masa depan.

Dan bentuknya? Semua monolitik dan minimalis banget. Nggak ada sudut tajam yang norak. Nggak ada ornamen berlebihan. Hanya bidang-bidang datar yang berbekas pukulan.

Hasilnya? Sebuah sofa yang keliatan elegan dari kejauhan, tapi pas lo deketin… “Wah, ini kenapa bolong-bolong gini?”

Tapi bolong-bolong itu bukan cacat. Itu adalah jejak proses kreatif. Itu adalah tanda tangan dari kolaborasi dua otak besar.

Yang Ada di Koleksi Barang “Rusak” yang Fungsional

1. Loveseat (Sofa Dua Dudukan)

Ini hasil dari ngebentuk balok styrofoam yang mirip bak mandi. Bagian tengahnya “dihancurin”, sisanya jadi sandaran + dudukan yang cukup buat dua orang santai.

  • Fungsi: Sofa kecil yang aesthetic.
  • Warna: Pink pastel khas Arsham.

2. Bench & Stool (Bangku Panjang & Bangku Pendek)

Dari balok panjang dan sempit, Arsham “memahat” dengan cara memotong dan menghancurkan bagian-bagian tertentu sampai bentuknya jadi bangku organik.

  • Fungsi: Dudukan tambahan, cocok buat lorong atau taman.
  • Karakter: Ada efek “terkikis” di ujung-ujungnya.

3. Console Table

Ini favorit saya. Dari balok tinggi berbentuk kotak (kayak obelisk mini), bagian dalamnya “dikosongkan” dan dirusak, menghasilkan meja ramping yang stabil.

  • Fungsi: Meja konsol di belakang sofa atau di lorong masuk.
  • Keunikan: Ada “void” (ruang kosong) di tengahnya—kayak gua mini.

Sorotan besarnya setiap produk itu unik. Karena proses “penghancuran”-nya dilakukan manual dan sekilas tanpa ukuran pasti, nggak akan ada dua bangku yang bentuknya persis sama.

Filosofi “Kita Nggak Serius-serius Amat, Kok”

Nah, ini yang membuat saya respect sama proyek ini.

Banyak kritikus desain yang kadang terlalu serius ngelihatin karya kayak gini. Mikirnya, “Ah, ini cuma sensasi. Nggak ada substansinya.”

Tapi ELLE Decor malah nyebut proyek ini sebagai “exercise of style” —latihan gaya, aktivitas ludic (main-main) dan space for sharing antara dua kreator besar yang di sini take themselves a little less serious (nggak terlalu serius sama diri mereka sendiri).

Dan saya setuju banget!

Break to Make ini bukan proyek yang pengen nge-solve krisis iklim atau ngasih solusi perumahan. Nggak. Ini adalah perayaan terhadap destruksi kreatif. Sebuah permainan antara order (nendo yang rapi) dan chaos (Arsham yang destruktif).

Oki Sato (nendo) bilang.

“Sama seperti Daniel yang punya tema jangka panjang ‘fictional archaeology’, kami juga pernah mengeksplorasi ide serupa tentang ‘reverse engineering’ dari kehancuran.”

Mereka sadar bahwa penghancuran bukanlah akhir. Justru di dalam puing-puing itulah bentuk baru lahir.

Konsep ini mirip dengan filosofi Kintsugi di Jepang—memperbaiki keramik yang retak dengan emas, sehingga retakannya justru jadi bagian dari keindahan. Bedanya, kalau Kintsugi memperbaiki yang udah rusak, Break to Make justru merusak yang udah utuh untuk menciptakan fungsi baru.

Gila, kan?

Nggak Ikut-ikutan “Cirque du Soleil”-nya Milan

Salah satu keputusan paling berani dari nendo + Arsham adalah nggak ikut pameran di pusat keramaian Milan Design Week (yang sering disebut “Il Circo” alias sirkus).

Mereka milih pameran di kantor nendo Milan sendiri yang ada di Via Pinamonte da Vimercate 4.

Kenapa? Oki Sato jelasin.

“Menggunakan ruang pameran khusus memungkinkan kami untuk menyajikan objek-objek dalam dialog satu sama lain, tetapi juga untuk menunjukkan proses kreatif dan alat-alat yang menghidupkan kolaborasi ini.”

Artinya, mereka nggak cuma pajang hasil akhir. Mereka juga pajang palunya, puing-puing styrofoam-nya, dan diagram prosesnya. Pengunjung bisa liat gimana sebuah balok nggak jelas berubah jadi sofa. Behind the scene banget!

Pamerannya sendiri berlangsung 18-23 April 2023 dan termasuk salah satu hits paling ramai di tahun itu.

Dan lucunya, galeri yang mensupport pameran ini adalah Friedman Benda dari New York—sebuah galeri seni kontemporer, bukan showroom furnitur biasa. Jadi posisinya memang lebih ke seni instalasi daripada sekadar jualan meja kursi.

Plus Dijual Juga Kaos dan Gantungan Kunci!

Buat yang nggak sanggup beli sofa gips seharga… ya, mahal, mereka juga jual merchandise di lokasi pameran kaos dan gantungan kunci custom dengan karakter Oki dan Daniel (versi kartun) yang lagi building and breaking things.

Lucu, kan? Kayak tontonan anak-anak, tapi konsepnya deep.

Hancurkan, Maka Kamu Akan Menemukan

Jadi, sob, gimana?

Setelah baca ini, apa persepsi kamu tentang kata “rusak” berubah sedikit?

“An artist who creates breaking, and a designer who creates things to be broken.”

Itu inti dari Break to Make . Seorang seniman (Arsham) yang berkarya dengan cara menghancurkan, dan seorang desainer (nendo) yang menciptakan benda-benda yang sengaja diciptakan untuk dihancurkan.

Duo yang aneh. Kontradiktif. Tapi justru di situlah letak kejeniusannya.

Oki Sato pernah bilang bahwa “masa lalu dan masa depan itu nggak ada” —atau setidaknya, mereka adalah hal yang sama . Arsham mengekspresikan objek masa kini sebagai artefak masa lalu. Sementara nendo menciptakan objek masa kini yang mengantisipasi masa depan. Dan ketika dua perspektif berlawanan ini ditumpuk (overlay), lahirlah Break to Make.

Jadi, koleksi ini bukan cuma soal sofa atau meja. Ini adalah pertanyaan buat kita semua.

“Berani nggak kamu menghancurkan sesuatu yang sudah nyaman, demi menciptakan sesuatu yang lebih bermakna?”

Tidak semua kehancuran itu buruk. Kadang, dari puing-puing kehancuran, kita justru membangun kembali dengan cara yang lebih indah.

Nah, kalau kamu jadi Daniel Arsham untuk sehari, benda apa di rumahmu yang berani kamu “hancurkan” untuk diubah fungsinya jadi sesuatu yang baru? Mungkin gelas kopi favoritmu yang retak pinggirannya, kamu sulap jadi pot tanaman mungil? Atau rak buku tua yang penyok, kamu potong jadi headphone gantungan?

Share artikel ini ke teman-teman yang hobinya ngoprek barang. Sampai jumpa di artikel berikutnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *