Badai Bunga dari Sampah Pabrik, nendo Bikin Kain Bekas Mekar untuk Kedua Kalinya

Halo, para pencari keindahan yang tersembunyi!

Wah, udah pada siap untuk terbawa angin sore ini? Karena setelah beberapa artikel terakhir kita yang heavy—mulai dari meja marmer Zaha, limbah BENTU, tempat singgah kucing, sampai meja pulau hantu yang bikin nangis—kali ini saya ajak kalian untuk… mengambang. Ringan. Berwarna. Seperti sedang berdiri di bawah pohon sakura saat angin bertiup kencang.

Hari ini, kita akan membahas “hana-arashi Collection” dari nendo.

Siap-siap. Meja, kursi, dan lampu ini bukan sekadar furnitur. Mereka adalah bunga yang mekar untuk kedua kalinya.

Sebelum Kita Mulai, Siapa Itu nendo?

Buat yang belum tahu, nendo itu bukan nama orang, ya. Itu nama studio desain asal Jepang yang didirikan oleh Oki Sato (yang sering dipanggil “nendo” juga—agak membingungkan sih, tapi gpp). Studio ini terkenal dengan desain-desain yang simple, cerdas, dan sering bikin kita bilang “Kok nggak kepikiran, ya?”

Tapi kali ini, Oki Sato melakukan sesuatu yang… berbeda.

Kalau biasanya nendo terkenal dengan palet warna monokrom, putih, hitam, dan abu-abu yang super minimalis, maka koleksi hana-arashi ini adalah ledakan warna yang bahkan membuat Oki Sato sendiri terkejut. Dalam sebuah wawancara, dia tertawa dan berkata.

“Kayaknya saya baru pertama kali dalam 20 tahun menggunakan warna sebanyak ini. Seolah-olah saya menemukan jalan baru yang nggak pernah saya duga sebelumnya.”

Kira-kira, apa sih yang membuat Oki Sato “kebablasan” warna?

Hana-Arashi, Bukan Sekadar Nama yang Indah

Hana-arashi (花嵐) adalah kata dalam bahasa Jepang yang terdiri dari dua suku kata:

  • Hana (花): bunga
  • Arashi (嵐): badai/angin kencang

Tapi jangan bayangkan badai yang merusak, ya. Hana-arashi merujuk pada momen ketika kelopak bunga sakura—yang sudah mekar sempurna—mulai gugur dan menari-nari tertiup angin sebelum akhirnya jatuh ke tanah.

Dalam estetika Jepang, ada pemikiran bahwa keindahan bunga sakura tidak hanya saat mekar penuh, tapi juga saat gugur. Momen kelopaknya beterbangan seperti badai bunga itu justru dianggap sebagai puncak keindahan yang kedua—sebuah “mekar kedua” yang lebih dramatis, lebih liar, lebih hidup.

Profound banget, kan?

Nah, filosofi inilah yang menjadi jantung dari koleksi hana-arashi.

Tapi Tunggu… Ini Furnitur dari SAMPAH?

Iya, beneran. Jangan kaget.

Koleksi hana-arashi ini adalah babak kedua dari proyek bernama “Mottainai” dari brand Italia Paola Lenti.

Mottainai (もったいない) adalah kata dalam bahasa Jepang yang artinya kira-kira “Sayang banget, kalau sampai terbuang sia-sia.” Ini adalah filosofi anti-mubazir yang sangat dijunjung tinggi di Jepang.

Jadi begini ceritanya.

Paola Lenti, brand furnitur asal Italia yang terkenal dengan outdoor furniture warna-warninya, punya banyak sisa potongan kain dari produksi mereka. Kain ini disebut Maris, terbuat dari 100% polypropylene mesh—sejenis jaring yang tahan air, kuat, dan bisa didaur ulang.

Alih-alih dibuang, mereka menyimpannya. Lalu mereka mengundang Oki Sato untuk “menghidupkan kembali” limbah ini.

Dan Oki Sato, dengan segala kejeniusannya, berkata “Bagaimana kalau kita menyolder potongan-potongan ini tanpa lem dan tanpa jahitan?”

Teknologi di Balik Keajaiban High-Frequency Thermocompression

Nah, ini dia bagian yang bikin saya merinding.

Cara kerjanya:

  1. Potongan-potongan kain Maris yang berbeda warna disusun bertumpuk.
  2. Lalu mereka dipanaskan dengan suhu dan tekanan yang sangat presisi menggunakan mesin frekuensi tinggi.
  3. Karena polypropylene punya titik lebur yang rendah, potongan-potongan ini meleleh dan menyatu di titik-titik tertentu.
  4. Hasilnya? Selembar material baru yang.
  • Di bagian yang tebal: keras dan kuat (untuk struktur).
  • Di bagian yang tipis: tetap lentur dan tembus cahaya (untuk efek estetik).

Bayangkan seperti membuat kue lapis, tapi dengan mesin canggih dan hasil akhir yang sculptural.

Yang lebih keren TIDAK ADA LEM, TIDAK ADA JAHITAN. Semua murni dari panas dan tekanan. Artinya, material ini 100% masih bisa didaur ulang lagi setelah masa pakainya habis.

Dari Tumpukan Kain Jadi… Baju Zirah Samurai?

Oke, setelah materialnya jadi, proses selanjutnya adalah yang paling nendo banget.

Lembaran kain yang sudah “disolder” itu kemudian:

  1. Digulung perlahan (seperti menggulung kue bolu)
  2. Ujung-ujungnya disatukan dengan panas lagi
  3. Hasilnya adalah bentuk tiga dimensi bisa kursi, meja samping, pouf, lampu gantung, atau keranjang

Dan tahukah kamu bentuk akhir dari rolling ini mengingatkan pada apa?

Zirah samurai.

Iya, beneran. Bentuknya yang berlapis-lapis dan melingkar itu sengaja terinspirasi dari baju perang khas Jepang. Tapi jangan khawatir, furniturnya empuk dan nyaman, bukan keras kayak besi!

Oki Sato bilang bahwa proses menggulung ini adalah cara paling alami untuk memberikan kekuatan struktural pada material yang sebenarnya lembut.

Hana-Arashi vs Mottainai, Filosofi yang Sama, Rupa yang Berbeda

Mungkin kamu bertanya, “Ini mirip-mirip sama proyek BENTU ‘The Second Mine’ yang dulu kita bahas, ya?”

Jawabannya Iya, mirip, tapi beda filosofinya.

  • BENTU (The Second Mine) mengambil limbah konstruksi dan mengubahnya menjadi furnitur dengan estetika industrial yang kasar dan bertekstur—seperti batuan sedimen yang merekam sejarah.
  • nendo + Paola Lenti (Hana-arashi) mengambil limbah kain pabrik dan mengubahnya menjadi furnitur dengan estetika organik yang halus, berwarna-warni, dan playful—seperti kelopak bunga yang beterbangan.

Keduanya sama-sama mengusung circular design (desain sirkular yang nggak menghasilkan sampah). Tapi cara bicaranya berbeda.

Mottainai—proyek besar di balik Hana-arashi—sebenarnya sudah dimulai pada tahun 2022 dengan mengundang Campana Brothers (desainer asal Brasil) untuk membuat koleksi pertama.

Lalu di tahun 2024, giliran nendo yang diajak. Paola Lenti (pendiri brand) bilang.

“Kami penasaran untuk berkolaborasi dengan desainer yang gaya desainnya berbeda dari Campana Brothers. Kami panggil nendo. Dan Oki Sato dengan cerdas memberikan kehidupan baru pada potongan-potongan Maris. Hasilnya adalah Hana-arashi penuh warna tapi tetap kalem, dan saya rasa sangat Jepang.”

Jadi kalau Campana Brothers membuat Mottainai versi Brasil yang liar dan ekspresif, maka nendo membuat Mottainai versi Jepang yang tenang, puitis, tapi tetap berwarna.

Yang Ada di Koleksi Ini Apa Saja Sih?

Mari kita lihat line-up-nya. Koleksi hana-arashi terdiri dari:

1. Armchair Berputar (Swivel Armchair)
Ini adalah bintang utamanya. Kursi bundar yang nyaman, bisa diputar, dan diselimuti oleh “kelopak-kelopak” kain warna-warni. Struktur dalamnya dari stainless steel poles dengan tali elastis.

2. Pouf (dua ukuran)
Si empuk mungil yang bisa jadi tempat duduk tambahan atau sandaran kaki. Warnanya? Pilih dari 180 varian warna yang tersedia.

3. Meja Samping (Side Tables)
Meja kecil dengan permukaan dari kain yang sudah di-thermocompression hingga keras. Cocok buat naruh secangkir teh di balkon.

4. Lampu (Lantai & Gantung)
Nah, ini favorit saya pribadi. Karena teknik pemanasan bisa menciptakan bagian tembus cahaya dan bagian buram dalam satu lembar kain yang sama, lampu-lampu ini menghasilkan efek cahaya yang magical—seperti sinar matahari yang menembus kelopak bunga.

Oh iya, untuk lampu gantung, ada cakram plexiglass di dalamnya yang membantu menyebarkan cahaya.

5. Keranjang Berbentuk Kerucut (Cone Baskets)
Bisa dipakai sebagai wadah tanaman pot atau sekadar keranjang penyimpanan. Bentuknya yang mengerucut membuatnya stabil dan unik.

Semua produk ini bisa dipakai di dalam maupun luar ruangan karena bahan Maris tahan air dan UV.

Filosofi yang Lebih Dalam “Mekar untuk Kedua Kalinya”

Saya suka banget dengan cara Oki Sato menafsirkan ulang waste.

Dia tidak melihat limbah sebagai “sisa yang memalukan”. Dia melihatnya sebagai… kesempatan untuk mekar lagi.

Dalam budaya Jepang, ada konsep bahwa kesempurnaan ada di dalam ketidaksempurnaan (wabi-sabi). Bunga sakura tidak hanya indah saat puncak mekarnya, tapi juga saat kelopaknya mulai gugur—karena justru di situlah ada gerakan, ada kehidupan, ada transisi.

Begitu juga dengan limbah kain. Bukankah ini adalah “mekar kedua” dari material yang tadinya “mati” karena tidak terpakai?

Saya jadi ingat kata-kata Oki Sato dalam sebuah wawancara.

“Bunga mekar lalu gugur dan beterbangan di angin. Itu seperti mekar untuk kedua kalinya.”

“Awalnya saya kira warna-warna ini bukan ‘nendo banget’. Tapi ternyata, ketika kalian melihat potongan-potongan ini bersatu, warna-warna itu menciptakan harmoni yang natural dan tak terduga—seperti kelopak bunga yang beterbangan, nggak pernah persis sama setiap saat.”

Dan memang, karena setiap potongan adalah sisa dari produksi yang berbeda-beda, hasil akhir setiap furnitur unik—nggak akan ada yang persis sama. Pola warnanya organik, seperti alam menciptakan pola pada dedaunan atau bulu burung.

Ledakan yang Terkendali

Sebagai seseorang yang sering mengagumi desain nendo yang monochrome, melihat koleksi hana-arashi ini seperti melihat pelangi yang lahir dari badai.

Oki Sato mengakui bahwa awalnya dia ragu.

“Selama ini saya merasa warna itu untuk kepentingan pemasaran atau tren. Itu tidak ada hubungannya dengan metode desain saya.”

*”Tapi kali ini, bekerja dengan Paola Lenti—yang memiliki spectrum warna luar biasa—saya belajar bahwa warna bisa menjadi bagian dari *cerita, bukan sekadar gaya.”

Dia menjabarkan proses color-matching dengan Paola Lenti sebagai sesuatu yang mengasyikkan—seperti dua pelukis yang berbagi palet, lalu menemukan nuansa baru yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Dan yang paling menarik karena potongan kain yang digunakan adalah scraps dari produksi sebelumnya, setiap rangkaian warna adalah kolase yang nggak sengaja—seperti keputusan alam yang tidak bisa direkayasa sempurna.

Empati Desainer, Setetes dari Jepang

Ada satu kalimat dari Oki Sato yang membuat saya berhenti sejenak saat membaca wawancara ini.

“Kesan pertama saya terhadap Paola (Lenti) adalah… dia sangat Jepang. Pendiam, sangat baik, dan sangat menghormati alam. Dia melihat alam. Dia merasakan alam dengan cara yang saya rasa sangat indah—sangat autentik, sangat dekat dengan budaya saya.”

“Saya terkejut menemukan istilah ‘Mottainai’ di perusahaan Italia. Saya langsung merasa seperti di rumah.”

“Saya percaya dengan proyek ini, Paola dan saya mencapai keseimbangan antara spiritualitas, materialitas, dan keberlanjutan. Karena dalam banyak hal, kami berbicara dalam bahasa yang sama. Ini seperti menulis haiku.”

Haiku—puisi pendek Jepang yang padat makna.

Bayangkan sebuah meja atau kursi yang terbuat dari potongan-potongan kain sisa, yang dirajut tanpa jahitan dan tanpa lem, hanya dengan panas dan tekanan. Itu adalah haiku dalam bentuk furnitur. Pendek, padat, penuh makna.

Pandangan Saya Ketika Keterbatasan Menjadi Kekuatan

Sobat, saya pribadi sangat terinspirasi dengan hana-arashi.

Kenapa? Karena ini membuktikan bahwa inovasi terbesar sering datang dari keterbatasan—dalam hal ini, keterbatasan karena menghasilkan sampah.

Seringkali kita berpikir bahwa desain yang bagus harus menggunakan material baru, mahal, dan sempurna. Tapi nendo dan Paola Lenti menunjukkan sebaliknya justru sisa-sisa produksi yang tidak sempurna itulah yang, ketika digabungkan dengan teknik yang tepat, dapat menciptakan keindahan yang tidak terduga.

Setiap kursi, setiap meja, setiap lampu dalam koleksi ini adalah bukti bahwa waste bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah cerita baru.

Angin Itu Masih Berhembus

Teman-teman, mungkin ini artikel paling berwarna yang pernah saya tulis. Dan sejujurnya, saya sangat menikmati proses menulisnya.

Koleksi hana-arashi mengajarkan kita bahwa batasan antara “sampah” dan “mahakarya” hanya setipis panas dan tekanan yang tepat.

Oki Sato, dengan segala kesederhanaan dan kecerdasannya, telah berhasil menangkap esensi dari badai bunga—sesuatu yang liar, sementara, dan indah—lalu membekukannya dalam bentuk kursi, meja, dan lampu.

“Ini seperti menulis haiku,” katanya.

Dan saya setuju. Hana-arashi adalah haiku yang panjangnya 5-7-5 suku kata, tapi maknanya tak terbatas.

Gimana pendapatmu?
Kalau kamu lihat furnitur dari potongan kain sisa—yang dirajut tanpa jahitan dan tanpa lem—apakah kamu akan tertarik memilikinya? Atau kamu masih lebih suka furnitur dari kayu solid yang “konvensional”?

Atau… maukah kamu melihat “sampah” di sekitarmu dengan cara yang berbeda setelah membaca artikel ini?

Tulis pendapatmu di kolom komentar, ya! Siapa tahu kamu punya ide untuk membuat mottainai versi Indonesia dari limbah batik atau sisa kain perca.

Share artikel ini ke teman-teman pencinta desain dan lingkungan. Sampai jumpa di artikel berikutnya dengan cerita desain yang nggak kalah colorful!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *