Halo, Sobat Desain!
Balik lagi di blog kesayangan kita. Udah pada kangen belum sama obrolan seru seputar desain yang nggak cuma enak dipandang, tapi juga punya cerita dan nyawa?
Hari ini, kita akan bahas sesuatu yang agak… beda. Bukan meja mewah dari batu alam yang dihaluskan teknologi kayak sebelumnya. Bukan juga kursi yang seolah-olah bisa terbang.
Kali ini, kita akan ngobrolin kotoran industri. Iya, beneran.
Tapi tunggu dulu, jangan tutup tabnya! Soalnya, kotoran ini disulap jadi masterpiece yang bahkan akan bikin kamu geleng-geleng kepala sambil bilang, “Gila, ini dari limbah? Serius?!”
Yuk, kenalan dengan “The Second Mine” dari BENTU Design. Siap-siap mikir ulang tentang sampah!
Filosofi “Sampah itu Hanya Bahan yang Salah Tempat”
Coba kamu lihat sekeliling rumahmu. Atau lihat gedung-gedung beton di luar jendela. Suatu hari nanti, gedung-gedung itu akan tua dan dirobohkan. Lalu, kemana perginya puing-puing beton, bata, dan keramiknya? Biasanya? Timbunan sampah. Menggunung, nggak bisa diurai alam, bikin bumi sesak napas.
Nah, BENTU Design punya cara pandang yang bikin saya speechless. Mereka bilang:
“There is no such thing as ‘waste’. There is only material waiting to be mined for the second time.”
Makanya proyek ini dinamakan “The Second Mine” (Tambang Kedua).
Jika tambang biasa menggali gunung sampai bolong untuk mengambil material baru (yang notabene merusak alam), maka BENTU memilih untuk “menambang” di tempat pembuangan sampah, di puing-puing bangunan tua, atau di tumpukan abu sisa pembakaran batu bara.
Bayangkan Di Jepang atau Swiss, konsep urban mining ini sudah lumrah. Tapi BENTU, yang berbasis di China (produsen limbah konstruksi terbesar dunia), benar-benar mengeksekusinya dengan gila-gilaan. Mereka tidak hanya mendaur ulang, mereka mentransformasi secara estetik dan struktural.
Bahan Bakunya Dari Abu Terbang hingga Puing Rumah
Di balik kursi dan meja yang keliatan solid ini, kamu akan menemukan campuran yang nggak biasa. Ini dia tiga “harta karun” dari tambang kedua versi BENTU:
1. Fly Ash (Abu Terbang) dari Pembangkit Listrik
Dari PLTU Shenhua di Danau Poyang, China. Setiap 100 ton batu bara yang dibakar, tersisa 15-45 ton abu. Biasanya abu ini mencemari tanah dan air. BENTU mengambilnya, mencampurnya dengan slag baja dan limbah keramik dari Jingdezhen, lalu menghasilkan material baru yang kuatnya nggak kalah dari beton biasa.
2. Puing Bangunan dari “Urban Village”
Ini yang paling poetic buat saya. BENTU menyisir lokasi pembongkaran di kampung-kampung kota yang rata dengan tanah. Mereka ambil pecahan bata merah, beton abu-abu, keramik hijau kebiruan, dan sisa kayu.
Lalu mereka crusher (giling) di tempat menggunakan unit mobile. Nggak perlu diangkut jauh-jauh, jadi emisi karbonnya minim.
3. Sisa Keramik dari Pabrik
Kota Jingdezhen terkenal sebagai ibu kota keramik dunia. Tapi di balik keindahan porselen, ada gunungan limbah keramik yang nggak bisa hancur. BENTU mengambil fragmen-fragmen ini dan menyulapnya jadi meja dengan speckles (bintik-bintik) warna-warni yang estetik banget.
Proses Manufaktur 3D Printing dan “Pertumbuhan Anorganik”
Nah, sekarang masuk ke bagian teknologi-nya. BENTU nggak cuma ngecor material seperti bikin bakwan. Mereka pakai 3D Printing skala besar.
Mereka menyebutnya “Inorganic Growth” (Pertumbuhan Anorganik).
Bayangkan mesin printer raksasa yang menyemburkan adonan abu-abu kental lapis demi lapis. Karena pakai teknologi dual-extrusion, mereka bisa mengatur gradasi warna secara presisi.
- Warna merah bata dari debu bata merah.
- Warna abu-abu dari beton.
- Warna biru kehijauan dari pecahan keramik.
Hasilnya? Permukaan kursi atau meja yang berlapis-lapis seperti batuan sedimen atau seperti topografi pegunungan. Setiap lapisan adalah rekaman sejarah dari material sebelumnya. Keren banget kan?
Dan hasil risetnya mencengangkan:
- Material ini mengandung 85% limbah padat.
- Emisi karbon turun hingga 65-80% dibanding bikin furnitur dari beton/conventional.
- Menghemat material hingga 40% karena desainnya dioptimalkan oleh algoritma komputer.
Estetika Keindahan dalam Ketidaksempurnaan
Mungkin kamu bertanya, “Tapi… jelek nggak sih barang dari limbah?”
Saya jamin, justru ini yang bikin karya BENTU beda dari brand sustainable lainnya. Mereka nggak cuma peduli lingkungan, tapi juga peduli value aesthetics.
Lihatlah tekstur kursi “X Stool” atau kursi “PU”. Warnanya nggak rata sempurna. Ada bintik-bintik gelap, ada serat abu-abu yang bergradasi, ada warna merah bata yang muncul tiba-tiba.
Ini bukan cacat. Ini adalah “Memori Material”.
Seperti kata Homecrux, ini adalah jejak warna dari kota-kota yang sudah tak ada lagi (colorful imprint of cities that no longer exist) . Duduk di kursi ini, rasanya seperti menyentuh sejarah sebuah tempat. Di satu sisi, dia sekeras beton. Di sisi lain, dia berbicara tentang kerapuhan peradaban yang kita bangun dan hancurkan.
Apakah Ini Masa Depan Desain?
Saya pribadi sangat excited dengan gerakan seperti ini. Zaha Hadid (di artikel sebelumnya) bermain dengan form dan teknologi tinggi hingga menghasilkan furniture yang seperti patung.
BENTU Design bermain dengan substansi dan etika hingga menghasilkan furniture yang seperti fosil masa depan.
Keduanya sama-sama brilian. Tapi untuk urusan keberanian memaknai ulang “sampah”, saya kasih dua jempol untuk BENTU.
Jadi, gimana?
- Apakah kamu tertarik untuk membeli furniture dari “Tambang Kedua”?
- Atau kamu masih ragu karena mikir “Ah, ini kan sampah” ?
Tulis di kolom komentar ya! Siapa tahu nanti ada brand lokal Indonesia yang terinspirasi bikin kursi dari limbah plastik atau debu vulkanik?
Like dan share artikel ini ke teman-teman arsitek atau aktivis lingkunganmu. Sampai jumpa di artikel berikutnya!