Halo, para pembaca yang masih punya anak kecil di dalam hatinya!
Udah pada siap buat rewind ke masa kecil? Hari ini kita akan bahas sesuatu yang… gila. Bukan gila dalam artian susah dipahami, tapi gila dalam artian “Kok nggak kepikiran dari dulu sih?!”
Jadi gini. Setelah ngobrolin meja marmer mewah, kursi dari limbah pabrik, sampai rumah singgah kucing liar—sekarang saatnya kita bermain.
Beneran. Bermain.
Karena kali ini saya bakal ngenalin kalian pada “Play The Lamp” dari Studio Monana. Siap-siap lupa konsep “lampu itu cuma buat terang-terangan”.
Siapa sih Studio Monana?
Sebelum kita bahas lampunya, kenalan dulu sama dalang di balik karya ini.
Studio Monana itu bukan studio desain biasa. Mereka didirikan tahun 2020 oleh seorang desainer muda jenius bernama He Xian, lulusan Central Saint Martins (kampusnya para perancang visioner, ya).
Tapi yang bikin Monana beda mereka nggak mau dianggap serius.
Seriusnya, baca deh deskripsi mereka “Kami ingin melakukan aktivitas desain artistik dengan ritme puitis dan tata bahasa musikal”. Terus mereka punya dua proyek riset dengan nama yang… lucu banget “Perusahaan Desain Tua” dan “Perusahaan Desain Anak-anak.
Nah, kegalauan dan kenakalan inilah yang melahirkan Play The Lamp.
Lampu? Bukan. Ini Mainan yang Bisa Nyala.
Oke, sekarang tutup mata sejenak. Bayangkan kamu masih umur 7 tahun. Kamu punya balok kayu warna-warni, terus kamu susun jadi istana, jadi jembatan, jadi robot.
Nah, Play The Lamp itu persis seperti itu.
Tapi bedanya balok-balok ini bisa menyala.
Play The Lamp adalah sistem lampu modular yang terdiri dari beberapa elemen berbentuk geometris sederhana—seperti triangel, persegi, silinder, dan lengkungan. Elemen-elemen ini bisa dirangkai seperti Lego atau balok mainan anak-anak.
Kamu bisa:
- Susun vertikal jadi lampu meja.
- Susun horizontal jadi lampu panjang di atas rak TV.
- Tumpuk jadi lampu lantai setinggi pinggang.
- Atau bikin bentuk abstrak yang nggak masuk akal—dan itu sah-sah saja.
Setiap elemen adalah sumber cahaya. Jadi apapun bentuk yang kamu ciptakan, seluruh struktur akan menyala merata.
Ini bukan lampu. Ini lampu sekaligus mainan. Play itu kata kuncinya.
Filosofi Desain Itu Harus Caring dan Playful
Saya suka banget dengan prinsip utama Studio Monana. Dalam sebuah wawancara, mereka bilang:
“Kami sangat peduli dengan dunia ini. Kami ingin desain yang caring—yang peduli pada orang-orang yang menggunakannya.”
Dan bentuk caring versi Monana itu adalah membiarkan orang bermain.
Coba bandingkan dengan lampu kebanyakan di rumah kita. Beli, pasang di plafon atau meja, done. Interaksi kita dengan lampu cuma sebatas tekan sakelar.
Tapi Play The Lamp mengundang interaksi yang lebih dalam. Kamu harus memegang, membongkar, menyusun ulang, mencoba, gagal, lalu berhasil. Proses itu sendiri yang menjadi “nilai” dari produk ini.
Monana percaya bahwa desain yang baik bukan cuma soal hasil akhir, tapi soal pengalaman. Play The Lamp nggak akan pernah selesai. Bentuk hari ini bisa beda dengan bentuk minggu depan. Lampu ini hidup bersama kreativitas pemiliknya.
Materi dan Warna Vintage Tapi Kekinian
Sekarang soal estetika. Karena ini lampu, bukan mainan anak sembarangan. Play The Lamp tetap dewasa dalam urusan visual.
Materialnya menggunakan aluminium anodized dan akrilik tembus cahaya. Finish-nya matte, elegan, dan warnanya nostalgia banget.
Koleksi awal meluncurkan varian warna:
- Merah tomat vintage (kayak plastik mainan tahun 80-an)
- Krem lembut (ambien yang hangat)
- Abu-abu industrial (buat yang suka gaya brutalist)
- Biru muda (pastel, playful)
Teksturnya? Kalau kamu pencinta old school, kamu bakal langsung flashback ke balok mainan dari kayu yang sering kamu susun di karpet ruang tamu. Bedanya, balok ini kalau kamu pencet, nyala.
Monana menyebut pendekatan ini sebagai “poetic and joyful” —puitis sekaligus menyenangkan. Kombinasi langka di dunia desain furniture yang seringkali terlalu kaku atau terlalu serius.
Gimana Cara Dapatkannya?
Play The Lamp adalah bagian dari koleksi Monana 2025/2026 yang pertama kali diperkenalkan di ajang Milan Design Week baru-baru ini. Tanggapan publik? Luar biasa.
Banyak pengunjung yang tadinya cuma lihat-lihat, malah betah berjam-jam di booth Monana karena asyik main menyusun lampu. Bahkan desainer senior sekalipun ketagihan.
Saat artikel ini ditulis, Play The Lamp masih dalam tahap pre-order terbatas. Harga per basic set-nya (sekitar 8-10 elemen) diperkirakan di kisaran €400-600—tergantung varian warna dan jumlah elemen.
Untuk pasar Indonesia, mungkin kita perlu bersabar menanti distributor resmi atau pre-order langsung dari situs Monana. Tapi tenang, kalau ada kabar terbaru, pasti bakal kita update di blog ini!
Desain yang Mengajak Kita Bermain
Teman-teman, mungkin ini artikel yang paling ringan secara teknis tapi paling berat secara filosofi yang pernah kita bahas.
Studio Monana mengajarkan kita sesuatu yang sering dilupakan industri desain bahwa kita semua—sekaya, separah, setua apapun kita—sebenarnya masih anak kecil yang suka menyusun balok.
Play The Lamp bukan sekadar lampu. Dia adalah undangan untuk berkreasi. Sebuah permission slip dari seorang desainer ke penggunanya “Hey, nggak perlu takut salah. Coba susun ulang. Lihat apa yang terjadi. Itu rumahmu, terserah kamu.”
Dan itu, menurut saya, adalah bentuk desain paling berani di tahun 2026.
Gimana pendapatmu?
Bakal beli Play The Lamp kalau masuk Indonesia? Atau justru mikir “Ah, ribet amat nyusun-nusun lampu terus” ?
Tulis di kolom komentar ya! Jangan lupa mention bentuk lampu imajinasimu. Siapa tahu Monana terinspirasi bikin expansion pack khusus buat kita.
Share artikel ini ke teman-teman yang masih suka main Lego meskipun udah punya anak dua. Sampai jumpa di artikel berikutnya!