Halo, Sobat Cerita dan Rasa!
Udah pada makan siang belum? Atau lagi nyemil sambil scroll? Hati-hati, artikel kali ini bisa bikin kamu lapar. Tapi laparnya bukan cuma laper nasi, ya. Tapi juga laper cerita, laper kenangan, dan laper kehangatan.
Kenapa? Karena setelah beberapa kali kita ngobrolin soal desain yang megah, canggih, dan main-main—sekarang waktunya kita duduk santai di satu meja. Meja yang nggak cuma buat makan, tapi buat pulang ke rumah.
Hari ini, saya akan mengenalkan kalian pada “Meet’n Meal” dari o&o studio + REhyphenation.
Siap-siap. Meja bundar ini punya cerita yang… bikin mellow. Tapi mellow yang manis. Seperti teh hangat di sore hari yang hujan.
Sebuah Pulau yang (Pernah) Sepi
Sebelum bahas meja, coba bayangkan sebuah pulau kecil di Hong Kong bernama Yim Tin Tsai (鹽田梓)—atau kalau diterjemahkan kira-kira artinya “Pelabuhan Tambak Garam”. Luasnya cuma 0,31 kilometer persegi. Kecil banget, kan?
Pulau ini dihuni oleh keluarga besar Chan (Chen) yang berasal dari suku Hakka. Mereka hidup dari alam bikin garam, mancing, bertani, pelihara ayam. Uniknya, seluruh penduduk pulau ini beragama Katolik—sebuah perpaduan langka antara budaya Hakka tradisional dan iman Katolik.
Tapi di tahun 1998, keluarga terakhir meninggalkan pulau itu.
Yim Tin Tsai resmi jadi pulau hantu.
Bukan karena tsunami atau perang, ya. Tapi karena pergeseran zaman. Anak-anak muda pergi ke kota. Sekolah tutup. Lahan garam ditinggalkan. Yang tersisa hanya rumah-rumah kosong dan tembok-tembok tua yang mulai roboh.
Sedih, kan? Tapi tunggu dulu. Ceritanya nggak berakhir di situ.
Kemudian, Ada “Pesta Pulang”
Beberapa tahun terakhir, para mantan penduduk pulau mulai kembali. Nggak untuk tinggal lagi (karena pulau terlalu terpencil untuk kehidupan modern), tapi untuk memperbaiki. Mereka membangun kembali lahan garam, merenovasi gereja kecil St. Joseph, dan membuka pulau untuk wisata budaya.
Nah, tahun 2024, Yim Tin Tsai menjadi salah satu lokasi Sai Kung Hoi Arts Festival (Festival Seni Laut Sai Kung). Tema tahun itu? “Joy Again, Gather” —”Kembali Bersukacita, Berkumpul”.
Pemerintah Hong Kong lalu menunjuk o&o studio (arsitek Eric Chan dan Suzanne Li) bersama seniman REHyphenation (Joyce Fok) untuk membuat sebuah instalasi seni yang akan tinggal permanen di pulau itu sebagai hadiah untuk penduduk.
Dan hasilnya? “Meet’n Meal”.
Sebuah meja bundar raksasa yang diletakkan tepat di halaman depan sebuah reruntuhan tembok tua—sisa-sisa rumah salah satu dari tiga klan keluarga yang dulunya hidup di sana.
Kenapa Meja Bundar? Kenapa Di Situ?
Saya tanya balik ke kamu. Kapan terakhir kali kamu makan malam bersama keluarga besar di satu meja bundar?
Mungkin saat Imlek. Atau saat ada hajatan. Atau saat mudik ke kampung halaman.
Meja bundar, dalam budaya Tionghoa (dan Hakka), punya makna sakral. Bentuknya yang bulat melambangkan kebersamaan tanpa ujung—tanpa kepala, tanpa ekor. Semua orang punya kedudukan yang sama saat duduk di meja bundar. Nggak ada yang terpinggirkan.
Tapi yang bikin Meet’n Meal ini genius adalah mejanya nggak utuh.
Coba perhatikan baik-baik. Bentuk meja ini bundar, tapi ada satu potongan besar yang hilang—seperti sebuah irisan yang diambil dari kue bundar. Potongan itu bentuknya nggak asal-asalan. Ia membentuk karakter aksara “豕” (shǐ)—yang artinya “babi” dalam aksara kuno China.
Lho, kok babi? Nggak lucu dong?
Tenang, ini nggak vulgar. Ini justru puitis.
Aksara “家” (jiā), yang artinya “rumah”, terdiri dari dua bagian atap (宀) di atas, dan babi (豕) di bawah. Filosofinya di zaman dulu, punya babi di bawah atap berarti punya makanan, punya kekayaan, punya kehidupan yang mapan. Itulah esensi “rumah”.
Nah, tembok tua yang menjadi latar instalasi ini adalah sisa-sisa atap (宀) dari rumah tua yang sudah roboh.
Dengan meletakkan meja yang “terpotong” membentuk aksara babi (豕) di depan tembok itu, maka secara visual aksara “rumah” (家) pun terbentuk.
Reruntuhan bukan lagi simbol kehilangan. Ia menjadi lengkapan dari sebuah rumah yang utuh. Para pengunjung diajak masuk ke dalam potongan meja—berdiri di ruang kosong itu—dan dengan begitu, mereka berada di dalam “rumah” itu sendiri.
Gila, nggak sih?
Satu meja bundar, satu tembok tua, satu potongan berbentuk babi. Dan tiba-tiba, publik berubah jadi keluarga.
Di Atas Meja 9 Hidangan yang (Mungkin) Nggak Kamu Kenal
Oke, kita sudah lihat desain mejanya. Tapi yang bikin Meet’n Meal benar-benar terasa “hidup” ada di atas mejanya.
Ada 16 piring dengan berbagai ukuran—beberapa adalah mangkuk Hakka tradisional, beberapa piring datar modern. Di atas piring-piring itu, terhampar 9 jenis “makanan”.
Jangan buru-baru ambil sendok, ya. Karena ini bukan makanan beneran. Ini adalah patung mosaik warna-warni berbentuk masakan tradisional yang dulunya biasa dimasak oleh penduduk pulau.
Apa saja?
- Ikan (ikan segar dari laut sekitar)
- Belangkas (makanan laut purba, dulu banyak di perairan Hong Kong)
- Kepiting
- Ikan Buntal (hati-hati, tapi penduduk pulai dulu tahu cara masaknya!)
- Ayam Garam (khas Hakka ayam dibungkus kertas lalu dikubur dalam garam panas)
- Katak Hijau
- Pork Belly Bowl (daging babi dalam mangkuk tanah liat)
- Cha Guo (kue beras kukus isi kacang/daging—camilan khas Hakka)
- Permen Kaca (ini yang paling unik!)
Cerita di Balik “Permen Kaca”
Nah, saya mau cerita soal yang nomor 9 Permen Kaca.
Dulu, di pulau itu hidup seorang pastor Katolik yang sangat memperhatikan anak-anak setempat. Karena pulau terpencil, mainan dan jajanan langka banget. Anak-anak nggak punya banyak hal untuk dinikmati.
Sang pastor lalu kreatif. Dia memanaskan gula sampai meleleh, lalu menuangkannya ke atas es (atau permukaan dingin), sehingga membentuk lapisan gula tipis yang bening dan mengeras—seperti kaca yang bisa dimakan.
Makannya dengan cara dijilat perlahan sampai lumer di lidah. Ini formel makanan masa sulit yang jadi icon of resilience—bahwa kebahagiaan bisa ditemukan dari bahan sekecil apapun, selama ada kreativitas dan kasih sayang.
AI, Mosaik, dan Sinar Matahari
Satu hal lagi yang bikin saya nganga.
Nggak ada satu pun foto atau gambar yang merekam secara pasti “seperti apa rupa ke-9 makanan itu 50 tahun lalu”. Kenangan hanya tersimpan di mulut dan ingatan para lansia yang tersisa.
Lalu bagaimana caranya o&o studio dan REhyphenation “membentuk ulang” makanan ini?
Jawabannya Artificial Intelligence.
Mereka memasukkan semua deskripsi lisan dari para tetua desa ke dalam AI generator, lalu AI membantu membayangkan bentuk visual dari setiap hidangan berdasarkan teks-teks itu.
Hasilnya? Bukan foto realistis, tapi sebuah abstraksi kaya warna yang dibuat dengan mozaik kaca warna-warni.
Lalu ketika matahari bersinar, mozaik-mozaik ini memantulkan cahaya seperti kaca patri di gereja kecil St. Joseph di atas bukit. Sebuah koneksi spiritual yang nggak disengaja tapi terjadi begitu indah.
Oh iya, piring dan mosaik ini juga menyerap panas matahari. Jadi kalau kamu datang siang hari, makanan-makanan ini akan terasa hangat saat kamu sentuh. Seperti baru saja diangkat dari kompor.
Detail yang bikin nangis, ya.
Desain Adalah Wadah untuk Pulang
Eric Chan (o&o studio) pernah bilang dalam wawancara bahwa mereka sengaja menghilangkan gaya pribadi dalam rancangan ini. Nggak ada “ciri khas o&o”, nggak ada “signature look” biar keliatan keren.
Semua elemen—meja, piring, makanan, bahkan warna—semuanya berasal dari pulau itu sendiri dari cerita penduduk, dari sejarah keluarga, dari rasa makanan yang mereka rindukan.
Ini yang disebut pendekatan “de-stylized”. Desainer tidak “mencipta” sesuatu yang baru. Mereka hanya menjadi wasit yang mengumpulkan fragmen-fragmen memori yang berserakan, lalu menyusunnya kembali menjadi sebuah meja.
Ujungnya, “Meet’n Meal” bukanlah sebuah objek. Ia adalah sebuah undangan.
Undangan untuk duduk. Undangan untuk berbagi cerita. Undangan untuk pulang—meskipun rumah fisikmu sudah rata dengan tanah.
Saya suka banget permainan kata yang mereka pakai.
Dalam bahasa Kanton, “M4 Zi2” (晤梓) artinya “bertemu di Yim Tin Tsai”. Tapi bunyinya mirip dengan “M4 Zi2” (唔止) yang artinya “lebih dari sekadar”.
Jadi:
- Meet’n Meal → lebih dari sekadar makanan.
- M4 Zi2 Yat1 Chaan1 → lebih dari sekadar bertemu.
Dan saya setuju banget. Meja ini memang lebih dari segalanya yang terlihat.
Bayangkan Jika Ada “Meet’n Meal” di Kotamu…
Sobat, sekarang saya ingin ajak kamu ngobrol personal lagi.
Apakah di kampung halamanmu ada sebuah pulau, desa, atau sudut kota yang sudah ditinggalkan? Mungkin karena pergi merantau, mungkin karena tergusur pembangunan, atau mungkin karena yang tua sudah tiada dan yang muda pergi ke kota?
Sekarang, bayangkan jika di reruntuhan rumah nenek moyangmu, tiba-tiba ada meja bundar dengan piring-piring berisi makanan yang dulu sering kamu makan waktu kecil. Mungkin rendang, mungkin nasi liwet, mungkin ikan asin sambal terasi.
Kira-kira, apa yang akan kamu rasakan?
Itulah kekuatan Meet’n Meal. Ia mengajarkan kita bahwa desain tidak harus selalu futuristik, mewah, atau canggih. Kadang, desain yang paling kuat adalah yang paling sederhana hanya sebuah meja bundar yang cukup besar untuk semua orang, dengan makanan yang cukup untuk semua rasa.
Meja yang Lebih dari Meja
Teman-teman, mungkin ini artikel paling enggak desain yang pernah saya tulis. Soalnya kita hampir nggak membahas lekuk kursi, material canggih, atau teknologi 3D printing.
Tapi justru di sinilah letak keindahannya.
o&o studio dan REhyphenation mengingatkan kita bahwa intuisi, empati, dan ingatan adalah alat desain yang paling canggih yang pernah ada. Dan mereka membuktikannya dengan sesuatu yang seharian kita anggap biasa meja makan.
Meet’n Meal bukanlah meja. Ia adalah:
- Sebuah gereja kecil bagi mereka yang rindu rumah.
- Sebuah pesta untuk mereka yang pindah.
- Sebuah doa untuk mereka yang pergi dan tidak kembali.
Sobat, meja ini mengundangmu pulang. Entah itu pulang ke kampung halaman, pulang ke masa kecil, atau pulang ke dirimu sendiri yang mungkin sudah lama hilang di antara deadline dan target kerjaan.
Jadi, kapan terakhir kali kamu benar-benar makan bersama keluarga? Bukan sekadar makan di meja yang sama sambil lihat HP masing-masing. Tapi beneran bersama?
Tulis jawabanmu di kolom komentar, ya. Dan jangan lupa share artikel ini ke grup keluarga. Siapa tahu jadi pengingat untuk ngadain makan bareng akhir pekan ini.
Sampai jumpa di artikel berikutnya, dengan cerita desain yang nggak kalah hangat.